Tiga Tahun IPM Brebes Terendah se Jateng, Pj Bupati Ungkap Bidang Kesehatan dan Pendidikan Jadi Ganjalan.
Pj Bupati Brebes Urip Sihabudin.
BREBES- brdnusantara.online - Miris, Indek Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah selama tiga tahun terakhir, menduduki peringkat paling bontot atau terendah se Jawa Tengah. Dimana IPM Brebes menduduki peringkat 35 dari 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah.
Pj Bupati Brebes Urip Sihabudin saat dikonfirmasi awak media mengungkapkan, bidang kesehatan dan pendidikan menjadi ganjalan
Menurutnya, laporan akhir kajian tentang peningkatan strategi IPM Kabupaten Brebes yang dirilis Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian Pengembangan Daerah (Baperlitbangda) Kabupaten Brebes menyebutkan, IPM di Kabupaten Brebes, menempati urutan terakhir, yakni nomor urut 35 di Jawa Tengah.
IPM Brebes tercatat 66,23 persen, atau terpaut jauh dibandingkan dengan IPM Ideal Jawa Tengah sebesar 72,16 persen.
“Dua indikator menjadi ganjalan rendahnya IPM di Kabupaten Brebes. Masing masing bidang pendidikan dan kesehatan,” kata Urip Sihabudin, Rabu (25/10/23) siang, saat ditemui awak media.
Dijelaskan, skor IPM Brebes saat ini 66,23 persen, jauh tertinggal dari kabupaten/kota lain. Dalam upaya menaikkan IPM, Urip mengaku telah mengajak dinas pendidikan dan kesehatan untuk membedah satu per satu dimensi atau variabel pembentuk IPM, mulai dari tingkat desa.
“Contoh untuk dimensi pengetahuan ada dua sub dimensi, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Kita akan mendalami masing-masing dimensi ini. RLS kita masih rendah, yaitu 6,3 tahun,” jelas Urip Sihabudin.
Di bidang kesehatan, Urip menjelaskan, jamban sehat juga menjadi salah satu rendahnya IPM Brebes yang sebenarnya bisa diselesaikan. Kemudian di bidang pendidikan, angka putus sekolah di Kabupaten Brebes juga masih tinggi
“Kemarin kita mencoba dalami per desa. Kemarin kita temukan, warga usia 25 tahun sekolah SMP pun tidak. Kita mulai dari desa per desa, kemudian kecamatan baru ditarik ke kabupaten. Itu jauh jauh lebih riil untuk mencari data dasar untuk evaluasi RLS,” ungkap Urip Sihabudin.
Indeks Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Brebes juga masih sangat rendah yaitu 69 tahun 7 bulan dibandingkan dengan AHH Nasional yang mencapai 71 tahun 8 bulan. Bahkan apabila dibandingkan dengan wilayah Karisidenan Pekalongan, Kabupaten Brebes cukup jauh tertinggal dimana Kota Tegal dengan nilai AHH, 75 tahun.
Sementara HLS Brebes menunjukkan indikasi yang cukup positif pada angka 12 tahun 15 bulan. Angka ini lebih tinggi apabila dibandingkan dengan angka ideal Provinsi Jawa Tengah sebesar 12 tahun 8 bulan.
Selanjutnya, ditinjau dari dimensi kesejahteraan, Pengeluaran per kapita Kabupaten Brebes mengalami kenaikan pada tahun 2022 yaitu sebesar Rp 10.514.000 per tahun.
Angka tersebut masih cukup jauh di bawah angka ideal pengeluaran per kapita Nasional pada tahun 2022 yang telah mencapai angka Rp. 11.479.000 per tahun.
“Artinya, rata-rata pengeluaran masyarakat Brebes Rp 28 ribu per hari untuk belanja kebutuhan,” ujar Urip Sihabudin.
Kepala Dindikpora Brebes Caridah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Brebes, Caridah membenarkan rendahnya indek Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Menurutnya, indek ini perlu ditingkatkan lagi di tahun tahun mendatang.
Kepala Dindikpora Brebds meneruskan, membutuhkan kesadaran bersama semua warga Brebes, agar bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu upaya yang disebut Caridah adalah pogram Gerakan Kembali Bersekolah(GKB) untuk menaikan RLS.
“Upaya lain juga ada SMP Terbuka, Kelas Hybrid, Kelas Virtual, Bidik Misi Mahasiswa,” beber Caridah.
Upaya lain untuk meningkatkan RLS, lanjut dia, adalah program Dewasa Tidak Sekolah (DTS) untuk warga usia 22 – 55 tahun agar bisa kembali bersekolah lewat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Program Dindikpora dengan Dindukcapil adalah ‘Kabar Ibu’, KK Baru melalui Ijazah Baru,” tegas Caridah.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Brebes, Ineke Try Sulistyowaty menyebut, banyak kendala di bidang kesehatan dalam upaya menaikkan IPM.
Salah satunya SDM tenaga kesehatan (nakes) yang harus selalu diuprgarde keilmuannya melalui peningkatan kapasitas.
Hal ini lantaran dunia medis terus berkembang dengan peralatan-peralatan yang lebih modern sementara kompetensi nakes masih mengacu pada pedoman yang lama.
“Alat-alat kesehatan sekarang banyak yang baru, banyak SDM nakes yang kurang paham mengoperasikan. Kemudian dalam melakukan kegiatan-kegiatan sosialisasi, upaya pencegahan, dan menekan AKI dan AKB juga kurang maksimal,” kat Ineke.
Terakhir, perlu biaya yang besar untuk meningkatkan kapasitas nakes yang jumlahnya mancapai ribuan orang.
“Jumlah nakes di Brebes sampai ribuan, kalaupun harus ada peningkatan kapas
itas, ini butuh biaya sangat besar,” pungkasnya.***






Comments
Post a Comment